Kecil Pulau nya, Besar Teknologi nya

Sebagai mahluk hidup, air adalah sumber utama kehidupan manusia. Dari tahun ke tahun seiring dengan berkembangnya industry dan semakin padatnya penduduk, air bersih semakin sulit diperoleh. Berbagai program yang diluncurkan oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat melalui program air bersih, gerakan penghematan air, penghijauan maupun pengembangan teknologi pengolahan air telah dilakukan secara maksimal. Namun sampai saat ini kebutuhan air bersih tetap menjadi permasalahan. Pada tahun 2000, Bank Dunia (Idelovitch and Ringskog 1995) mengidentifikasi tiga faktor penyebab rendahnya sektor air bersih (SAB) di dunia, yakni pemborosan air sangat tinggi, melimpahnya penduduk dunia, dan kualitas air yang tidak stabil dan tidak memenuhi standar akibat gagalnya pengendalian masalah lingkungan.

Pada dasarnya, permasalahan untuk memperoleh air bersih dapat diatasi dengan berbagai teknologi water treatment. Saat ini, telah berkembang teknologi pemurnian/penjernihan air dengan menggunakan berbagai media seperti karbon aktif, zeolit, pasir aktif maupun teknologi pertukaran ion. Namun bagi masyarakat di daerah terpencil, teknologi-teknologi tersebut sulit diaplikasikan.

Meskipun demikian, pengelolaan air bersih di daerah terpencil bukan tidak bisa dilakukan. Sebuah desa kecil di salah satu pulau kecil di Indonesia yaitu Pulau Bacan, yang terletak di Kabupaten Halmahera Selatan, provinsi Maluku Utara telah melakukan pengelolaan air bersih secara sederhana. Masyarakat di pulau tersebut memiliki pasokan air bersih yang cukup memenuhi standar. Pulau yang berpenduduk ±100 orang ini menggunakan air bersih yang bersumber dari air sumur. Penduduk di pulau Bacan berpendapat bahwa sebenarnya mereka tidak terlalu mempermasalahkan pasokan air bersih selama kebutuhannya terpenuhi. Namun, tindakan preventif untuk mengatasi kesulitan air bersih telah mereka lakukan sejak dini secara bergotong royong dengan aparat pemerintah setempat, melalui pengelolaan dan pemanfaatan sumber air terjun.

Sejak tahun 2010 penduduk melakukan program air bersih dengan mengembangkan sistem yang berkaitan seperti sistem kerja fluida sederhana, yaitu bersumber dari air terjun yang bergerak dari dataran tinggi ke dataran rendah. Aliran air bersih yang jatuh dari terjun di tampung di dalam dua wadah yang berbeda ukuran. Wadah pertama berukuran 2 m x 1,50 m, dan wadah kedua berukuran 3 m x 4 m. Fungsi dari masing-masing wadah tersebut yakni yang pertama menyaring kotoran dan yang kedua menampung air bersih yang dihasilkan oleh saringan tersebut. Saringan yang digunakan cukup sederhana, yaitu berbahan kawat. Jarak antara wadah/penampung air bersih dengan pemukiman penduduk ± 300 m. Oleh karena itu dibuat pipa induk untuk mengalirkan air secara lebih mudah yang tekanannya sama dengan tekanan pada cabang-cabang pipa lain.